Tingkat keberhasilan pembangunan
nasional Indonesia di segala bidang akan sangat bergantung pada sumber daya
manusia sebagai aset bangsa dalam mengoptimalkan dan memaksimalkan perkembangan
seluruh sumber daya manusia yang dimiliki. Upaya tersebut dapat dilakukan dan
ditempuh melalui pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur
pendidikan non formal.
Salah satu lembaga pada jalur
pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di dunia
kerja, diantaranya melalui jalur pendidikan kejuruan. Pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang
mempersiapkan peserta didik, terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu
(Wikipedia 2019).
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, kembali
menegaskan pentingnya meningkatkan kualitas manusia Indonesia melalui
pendidikan vokasi dan pendidikan kejuruan (Kompas.id, 2019). Artinya,
di indonesia pendidikan kejuruan lebih di fokuskan daripada pendidikan menengah
lainya. Namun, kenyataanya pendidikan kejuruan di Indonesia secara garis besar
tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan lulusanya tidak siap kerja dan
menjadi pengangguran.
Dikutip dari CNN Indonesia, Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro. Menilai ada anomali
terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Ini lantaran lulusan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) lebih banyak menganggur dibanding
Sekolah Menengah Atas (SMA). Bambang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS)
per Agustus 2018 yang menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia
sebesar 6,99 juta orang, atau 5,34 persen dari jumlah angkatan kerja sebanyak
131,01 juta jiwa.
Dari jumlah tersebut, lulusan SMK menganggur tercatat 11,24
persen, sementara lulusan SMA menganggur mengambil porsi 7,95 persen. Menurut
Bambang kondisi ini terbilang tak masuk akal. Sebab, lulusan SMK harusnya bisa
lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena dibekali kompetensi dan keterampilan
yang mumpuni dibandingkan SMA.
Berarti
mutu lulusan SMK masih kurang baik sehingga menyebabkan lulusan SMK mendominasi
pengangguran di Indonesia, penyebab lainya yaitu lulusan SMK tidak memiliki
lapangan pekerjaan untuk mengaplikasikan keterampilan yang mereka miliki.
Untuk
mengatasi masalah diatas perlu adanya perhatian khusus terhadap mutu pendidikan
kejuruan. Memperbaiki mutu pendidikan
kejuruan adalah salah satu upaya yang dapat menyesaikan masalah diatas. Dengan
menerapkan manajemen mutu yang baik dan upaya untuk meningkatkan mutu
pendidikan kejuruan, menjadikan pendidikan kejuruan bekerja lebih optimal untuk
menghasilkan lulusan yang bermutu yang akan mengisi kebutuhan pasar DU/DI.

No comments:
Post a Comment